Senin, 19 November 2012

Mutasi, penyegaran atau mimpi buruk?


Apa yang terbayang ketika anda mendengar kata “mutasi” dalam pekerjaan anda? Senang? Sedih? Galau?? Ya..mungkin bisa salah satunya atau mungkin semuanya. Pengertian mutasi kerja itu sendiri adalah suatu perubahan posisi/jabatan/tempat/pekerjaan dlm suatu organisasi/perusahaan/instansi yg dilakukan oleh jajaran manajemen puncak organisasi kpd karyawan. Mutasi ada dua, yak ni horizontal dan vertikal (promosi/demosi), mutasi promosi adl bentuk apresiasi utk seorang karyawan yg memiliki kinerja diatas standar organisasi dan berperilaku sangat baik yg diwujudkan dlm bentuk kenaikan karir. Sedangkan mutasi demosi merupakan tindakan pinalti dlm bentuk penurunan pangkat atau dengan pangkat tetap tetapi sebagian tunjangan tidak diberikan sebagai akibat dari kinerja yg tidak bagus atau kelakuan yg tidak baik dr seorang karyawan (dr berbagai sumber).

Lalu seberapa pentingkah mutasi? Tentu sangat penting, terutama utk jenjang karir karyawan yg mpy kinerja bagus, atau utk bahan koreksi karyawan yg mpy kinerja buruk, dan atau utk hukuman kpd karyawan yg berkelakuan tidak baik, yg jelas semua harus sesuai dan tepat sasaran, selain itu apa yg menjadi alasan mutasi kerja serta lokasi tujuan mutasi jg harus dijelaskan secara gamblang oleh pihak manajemen pusat kpd karyawan yg bersangkutan. Selain “apresiasi” dan “hukuman”, sebenarnya ada begitu banyak faktor yg (biasanya) dijadikan alasan suatu mutasi kerja, misalnya penyegaran, atas permintaan karyawan itu sendiri, utk saling menggantikan (mengisi kekosongan karyawan), menciptakan persaingan sehat, kebijakan dan peraturan yg berlaku..dan bla..bla..dan mungkin masih ada 1001 faktor yg lain J.

Dari sekian banyak faktor, saya akan menggaris bawahi “penyegaran”. Suasana kerja baru, job desc baru (mungkin), menghilangkan kejenuhan dan kebosanan..bla..bla..adl sebuah gambaran indah yg akan diperoleh karyawan ditempat baru. Tapi apakah yg akan terjadi pasti seperti itu? Dari beberapa penelitian, artikel, maupun curhatan yg dishare online nampaknya tidak demikian, banyak orang yg menganggap bahwa mutasi itu selalu sebagai momok (banyak juga yg merespon mutasi sbg hal positif, terutama utk mutasi promosi). Mutasi yg tidak memberikan perubahan yg lebih baik dlm hal jabatan dan/atau kesejahteraan finansial msh dianggap sbg mimpi buruk..kl saya pikir ya memang masuk akal, coba bayangkan anda harus pindahan lagi..angkut2 lagi..adaptasi lagi..anak pindah sekolah lagi (seringnya diajak pindah2 mungkin akan berdampak buruk dalam perkembangan mental anak) ..atau akan jauh dr keluarga.. dan yg paling banyak digunakan sbg alasan adl keluarga, ya..keluarga!.

(batasan masalah: mutasi sbg bentuk penyegaran tp tidak memberikan perubahan positif dlm hal jabatan dan/atau kesejahteraan finansial karyawan)

Apakah “penyegaran” masih relevan utk dijadikan alasan mutasi? Tentu saja masih, tp harus dilihat dulu situasi dan kondisinya, jika mutasi yg dilakukan masih dalam jangkauan area tempat tinggal si karyawan tentu akan benar2 mjd penyegaran bagi karyawan tsb. Nah kalo jauh? Luar kota? Luar pulau? Atau bahkan luar negeri? Dan itu tidak memberikan perubahan jabatan dan/atau kesejahteraan finansial ke arah yg lebih baik? Tentu akan menjadi ‘mimpi buruk’ bagi si karyawan, bukan “penyegaran” yg didapat tp malah “beban” yg dirasakan oleh si karyawan. Karyawan yg harusnya segar kembali setelah mutasi krn suasana kerja baru, teman baru, pengalaman baru, job desc baru (mungkin) malah menjadi “nglokro” karena beban dengan alasan diatas. Efeknya adl bukan kenaikan produktivitas kerja karyawan tp malah penurunan, tentu perusahaan sendiri jg yg akan menuai hasilnya.

 “Jadi anda terbuai di zona nyaman?”, “Mana loyalitasmu thd perusahaan?”, “Mana motivasi pengembangan dirimu?”, “Jd anda tidak ingin mendapat pengalaman baru?” dan..bla..bla..bla.. mungkin akan dibombardir utk memojokkan karyawan. Kalau sudah berada dlm situasi ini tentu akan menimbulkan suasana kerja/hubungan yg tidak sehat antara pemberi keputusan dan karyawan. Dalam kondisi spt ini harusnya perusahaan bersikap win-win solution, mencari solusi terbaik bagi kedua belah pihak utk memecahkan persoalan atau kendala, bukan malah memberikan “tekanan lain” kepada karyawan tsb. Menurut saya tidak ada salahnya dalam mutasi dipertimbangkan jg faktor2 yg biasanya mjd alasan “penolakan” oleh karyawan, tidak lantas serta merta secara sepihak langsung memutuskan tanpa memberi ruang utk menampung dan mempertimbangkan alasan karyawan. Dalam hal ini (mutasi) manajemen SDM harus difungsikan secara optimal, MSDM harus bisa memilih dan memilah agar mutasi bisa menghasilkan “orang yang tepat pada tempat yang tepat”. Jika alasan klasik karyawan adl jarak antara tempat kerja dengan keluarga mk MSDM jg harus bisa mengelola SDM nya agar tidak terjadi “kado silang” antar kota/pulau/negara dalam satu perusahaan. Bukan krn alasan kebutuhan karyawan di kota/pulau/negara X lalu MSDM asal comot karyawan yg berasal dan sedang bekerja di kota/pulau/negara Y, dikelola dulu dan diutamakan karyawan yg berasal dr kota/pulau/negara X yg mungkin sekarang sedang bekerja di kota/pulau/negara Y dan sebaliknya, atau dengan jalan rekrutmen utk penempatan di tempat yg sedang membutuhkan karyawan dengan syarat dan prioritas tertentu agar tidak menjadi masalah baru bagi perusahaan dikemudian hari. Jika mungkin dalam hal membuat keputusan mutasi dalam rangka melaksanakan kebijakan dan peraturan perusahaan MSDM kurang mempertimbangkan “faktor lain” dr sisi karyawan sehingga menjadikan mutasi sbg “mimpi buruk” bagi karyawan, maka yg terjadi adl kemandulan fungsi Manajemen SDM, krn tidak mampu mengelola SDM perusahaan dgn baik.

Kesimpulan saya adalah dalam hal mutasi diperlukan pengelolaan SDM yg baik, dan ini masih menjadi pekerjaan rumah manajemen SDM perusahaan, bagaimana membuat sebuah mutasi (dalam batasan yg sudah saya buat) agar tidak lg menjadi mimpi buruk bagi karyawannya.

*tulisan diatas hanya opini saya, koreksi bertujuan utk memperbaiki, bukan menyerang



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar